Website tentang analisis ilmu ekonomi, pelajaran ekonomi, akuntansi, berita ekonomi Indonesia dan dunia

Pengertian Depresiasi, Amortisasi, Deplesi dan Contohnya

El Heze
Dalam ilmu akuntansi, kita akan sering mendengar istilah penyusutan. Penyusutan dalam akuntansi berlaku untuk aset tetap. Aset tetap yaitu aset-aset yang dimiliki perusahaan dengan masa manfaat jangka panjang. Dikarenakan manfaat aset tetap ini sifatnya jangka panjang (diatas 1 tahun), maka aset tetap yang dimiliki akan terjadi penyusutan nilai manfaat secara berkala. 

Contoh aktiva tetap adalah tanah, gedung, mesin, kendaraan. Sebagai contoh, jika perusahaan menggunakan kendaraan setiap hari untuk mengirim barang, maka pasti lama-kelamaan kendaraan tersebut akan menurun nilai manfaatnya. Entah mungkin karena ada kerusakan, ada reparasi dan sebagainya. Yang jelas, kendaraan tersebut nilainya tidak akan sama dengan ketika saat pertama kali perusahaan membeli kendaraan yang sama. 

Jika anda ingin mengenal lebih jauh tentang aset tetap dan karakteristiknya, anda bisa baca-baca pos saya disini: Pengertian, Jenis-jenis Aktiva Tetap dan Contohnya

Di pos tersebut, saya juga menjelaskan bahwa aset tetap dibagi menjadi 2, yaitu aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud. Aktiva tetap berwujud yaitu aktiva yang ada wujudnya seperti kendaraan, mesin, bangunan dan lain-lain. Sedangkan aktiva tetap tidak berwujud adalah aktiva yang memiliki manfaat besar dan memiliki jaminan namun tidak berwujud, seperti hak paten, hak cipta, goodwill.

Nah terkait jenis-jenis aset tetap ini, setiap jenis aset tetap ada penyusutannya. Berikut penggolongan jenis-jenis penyusutan: 

1. Depresiasi 

Depresiasi adalah penyusutan untuk aset tetap berwujud. Metode perhitungan depresiasi dilakukan dengan cara menyusutkan nilai aset berdasarkan umur manfaatnya. Depresiasi akan berpengaruh terhadap laporan keuangan perusahaan, karena depresiasi akan mengurangi nilai aset tetap. Dalam hal ini, depresiasi juga dapat mengurangi penghasilan kena pajak. 
Ada 2 metode untuk menghitung penyusutan depresiasi, yaitu metode garis lurus (straight line) dan metode saldo menurun berganda (double declining method). Cara menghitung depresiasi aset tetap, bisa anda baca pos-nya disini: Penyusutan Metode Garis Lurus, Penyusutan Metode Saldo Menurun Berganda, Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun. 

2. Amortisasi 

Amortisasi adalah penyusutan untuk aset tetap tidak berwujud. Jadi untuk goodwill, hak paten, hak cipta, istilah penyusutannya adalah amortisasi bukan depresiasi. Aset tetap tidak berwujud juga dapat berkurang nilai manfaatnya secara bertahap dalam jangka waktu tertentu tiap periode akuntansi. 

Contoh perhitungan amortisasi: Ketika perusahaan memiliki hak paten dari mesin yang dimilikinya selama 5 tahun. Maka ketika perusahaan menghabiskan biaya sebesar Rp50 juta setiap tahun untuk biaya pengembangan produk, maka Rp50 juta inilah yang akan dianggap sebagai biaya amortisasi setiap tahun selama 5 tahun (hak paten yang dimiliki perusahaan).

Berikut adalah contoh soal amortisasi yang lebih lengkap: Pengertian dan Contoh Soal Amortisasi.    

3. Deplesi 

Deplesi merupakan penyusutan yang terjadi untuk benda yang tidak dapat diperbaharui dan bersifat alami. Deplesi ini biasanya digunakan untuk perusahaan2 yang bergerak di bidang pertambangan, untuk menyatakan penyusutan pada hasil2 alam yang tidak dapat diperbaharui seperti hasil tambang, bijih besi dan sebagainya. 

Untuk menghitung deplesi, tentu saja metodenya akan berbeda dengan ketika anda menghitung penyusutan untuk amortisasi atau depresiasi. Hal ini karena deplesi berbeda dengan aset tetap pada umumnya, dan hal in berarti dibutuhkan akuntansi pertambangan untuk menghitung penyusutan lebih detail dari barang2 yang tidak dapat diperbaharui. 

Itulah pengertian dan perbedaan depresiasi, amortisasi dan deplesi dalam dunia akuntansi. Semoga bermanfaat untuk anda.. 

0 comments:

Post a Comment